DUMAI(DP)— Budayawan Riau, Drs H Taufik Ikram Jamil menegaskan,
keberadaan cagar budaya bakau yang herada di kuala Sungai Dumai, Kota
Dumai, harus tetap dipertahankan dari kemusnahan.
“Ya keberadaan situs itu penting sebagai bagian dari peradaban
masyarakat. Oleh karena itu keberadaannya tetap dijaga dari kemusnahan,”
ujar sastrawan Indonesia kelahiran Riau ini kepada Dumai Pos , saat
kunjungannya ke Kota Dumai, Senin (10/6)
Taufik Ikram Jamil juga mengungkapkan keprihatinan dirinya terhadap nasib yang melanda Dumai terutama dalam kurun setahun terakhir. Macam mana tidak; sudahlah kota ini ibarat hanya menjadi penonton ketika berbagai kekayaan alam Riau dipunggah dari pelabuhannya, berupa-rupa ulam hatinya pun diketepikan. Tugu Lancang Kuning sudah dihilangkan, lalu dugem dilegalkan dengan embel-embel sehat, kini hamparan bakau yang disepakati sebagai cagar budaya diluluhlantakkan.
Seperti dimaklumi, dalam jumpa pers belum lama ini, Depot Kreasi Anak Melayu (Dekam) Dumai menyatakan perlawanan terhadap PT Pelindo yang menjadikan cagar budaya tersebut sebagai pelabuhan. Sebab, hal itu bukan saja melanggar perjanjian yang dibuat Pelindo sendiri dengan berbagai organisasi terhadap kawasan tersebut 10 tahun lalu, tetapi telah menghapuskan sejarah Dumai. Belum lagu berkaitan dengan lingkungan semasa dan aspek ekonomis masyarakat tempatan.
Taufik Ikram Jamil menambahkan, selama ini tidak ada upaya yang serius terhadap peninggalan masa lampau di Riau secara umum, padahal alur sejarah peradaban di daerah ini amat panjang, dapat ditelusuri sebelum tahun masehi. Kerajaan Kandis di Kuansing seperti tinggal cerita betapapun orang luar sana mengaitkannya dengan peradaban Atlantis sebagai negara adidaya dunia pada masanya. Lebih dari 20 kerajaan muncul di Riau dengan suatu tatanan masyarakat tersendiri, pembangunan bandar-bandar begitu mekar, bukti-bukti tertulis melukiskan kisah dengan kasih, juga bentuk-bentuk kesenian yang menawan: Kesemuanya itu adalah pilar peradaban yang segak rancak.
Aneh bin ajaib, tegas Taufik Ikram, yang di depan mata pun terus digasak. Masjid Raya Pekanbaru misalnya, begitu mudah disulap dari aura sejarahnya yang bekata malu-malu tentang masa lalu. Sederet contoh lain akan dapat memenuhi halaman ini yang pada gilirannya menampilkan apa yang dilawan oleh Dekam dan DKD tersebut. Maka perih Dumai adalah perih Riau, adalah perih Melayu, adalah perih kita semua sebagai manusia.
Suatu keperihan yang semestinya tidak dirasakan oleh warga provinsi yang memiliki visi 2020 dengan mengedepankan budaya sebagai permata. Suatu keperihan yang semestinya tidak dirasakan di tengah warga dunia yang sibuk mencari identitas diri sebagai manusia; ketika agama dan bentuk-bentuk budaya tempatan adalah jawaban dari usaha pencarian tersebut.
Ketidak semestian itu, lanjut pria kelahiran Teluk Belitung, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti ini, menjadi makin dalam karena Riau khususnya Dumai, adalah pintu gerbang dari arus manusia dengan dinamika begitu tinggi sebagai titik besar dari dinamika Asia Pasifiksebagai kawasan teramai di dunia.
“Bayangkanlah ketika jembatan Melaka-Rupat membentang, terkoneksi dengan tol Sumatera yang berpangkal di Dumai. Untuk itulah, sikap Dekam terhadap perongrongan cagar budaya, seharusnya menjadi sikap kita semua. Menjadi sikap terhadap penghancuran sumber-sumber wujud peradaban, di samping terus menggalinya,” tegas Taufik Ikram Jamil (aru)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !